PERTEMUAN KE DUA BELAS JENIS-JENIS CEDERA DALAM OLAHRAGA

 A.Pengertian dari cedera ringan

Cedera ringan adalah cedera yang tidak diikuti kerusakan yang berarti pada jaringan tubuh, misalnya kekuatan otot dan kelelahan. Pada cedera ringan biasanya tidak memerlukan pengobatan apapun, dan akan sembuh dengan sendirinya setelah istirahat beberapa waktu.

Macam-macam cedera ringan yaitu:

a. Memar (kontusio)

Menurut Ronald P. Pfeiffer (2009:38) memar merupakan cedera yang disebabkan oleh benturan benda keras pada jaringan linak tubuh. Pada memar,

jaringan dibawah permukaan kulit rusak dan pembuluh darah kecil pecah sehingga

darah dan cairan seluler merembes kejaringan sekitarnya.

b. Kram Otot

Kram otot merupakan kontraksi otot tertentu yang berlebihan dan terjadi secara mendadak dan tanpa disadari. Menurut Kartono Mohammad (2001) kram otot terjadi karena letih, biasanya terjadi saat malam hari atau karena kedinginan, dan dapat pula karena panas, dehidrasi, trauma pada otot yang bersangkutan atau kekurangan magnesium. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya kram otot. Pada saat otot mengalami kelelahan dan secara tiba-tiba meregang, maka otot tersebut dengan terpaksa akan meregang secara penuh dan ini dapat mengakibatkan kram. Menurut Taylor (1997: 127) kram disebabkan oleh adanya ketidaksempurnaan biomekanik tubuh karena adanya malalignment (ketidak sejajaran) dari bagian kaki bawah, atau karena keadaan otot yang terlalu kencang, kekurangan beberapa jenis mineral tertentu(defisiensi) yang dibutuhkan oleh tubuh juga dapat mempengaruhi terjadinya kram otot, seperti kekurangan zat sodium, potassium, kalsium, zat besi, dan fosfor, dan terbatasnya suplai darah yang tersedia pada otot tersebut sehingga menyebabkan terjadinya kram otot. Pada intinya, kram otot terjadi karena terjadinya penumpukan asam laktat diotot karena mengalami kelelahan.

c. Lepuh (blisters)

Menurut Ronald P. Pfeiffer (2009:36) lepuh merupakan timbulnya benjolan di kulit dan didalamnya terdapat cairan berwarna bening. Lepuh terjadi akibat penggunaan peralatan yang tidak pas, peralatan masih baru, atau peralatan yang lama seperti sepatu yang terlalu kecil.


d. Perdarahan pada Kulit (lecet)

Perdarahan pada kulit atau perdarahan eksternal adalah perdarahan yang dapat dilihat berasal dari luka terbuka (Kartono Mohammad 2003:88). Cedera dapat juga merusak dan menyebabkan perdarahan. 

Menurut Kartono Mohammad (2003:88) ada tiga jenis yang berhubungan dengan jenis pembuluh darah yang rusak yaitu:

1) Perdarahan kapiler, berasal dari luka yang terus-menerus tetapi lambat.

Perdarahan ini paling sering terjadi dan paling mudah dikontrol.

2) Perdarahan vena, mengalir terus- menerus karena tekanan rendah

perdarahan vena tidak menyembur dan lebih mudah dikontrol.

3) Perdarahan arteri, menyembur bersamaan dengan denyut jantung, tekanan

yang menyebabkan darah menyembur juga menyebabkan jenis perdarahan

ini sulit dikontrol. Perdarahan arteri merupakan jenis perdarahan yang

paling serius karena banyak darah yang dapat hilang dalam waktu sangat

singkat

Kartono Mohammad (2003) menjelaskan bahwa perdarahan dikulit terdiri dari

beberapa jenis yaitu :

1) Abrasi : lapisan atas kulit terkelupas, dengan sedikit kehilangan darah.

(goresan, road rash dan rug burn)

2) Laserasi : kulit yang terpotong dengan pinggir bergerigi. Jenis luka ini

biasanya disebabkan oleh robeknya jaringan kulit secara paksa.

3) Insisi : potongan dengan pinggir rata, seperti potongan pisau atau teriris

kertas.

4) Pungsi : cedera akibat benda tajam (seperti pisau, pemecah es atau peluru).

5) Avulsi : sepotong kulit yang robek lepas dan menggantung pada tubuh.

6) Amputasi : terpotong atau robeknya bagian tubuh


e. Kehilangan kesadaran atau pingsan (syncope) 

Pingsan adalah keadaan kehilangan kesadaran yang bersifat sementara dan singkat, disebabkan oleh berkurangnya aliran darah dan oksigen yang menuju ke otak”

 (Kartono Mohammad, 2003: 96). Gejala pertama yang dirasakan oleh seseorang sebelum pingsan adalah rasa pusing, berkurangnya penglihatan, dan rasa panas. Selanjutnya, penglihatan orang tersebut akan menjadi gelap dan ia akan jatuh atau terkulai. 

Biasanya pingsan terjadi akibat dari 

(1) aktivitas fisik yang berat sehingga

menyebabkan deposit oksigen sementara, 

(2) pengaliran darah atau tekanan darah

yang menurun akibat perdarahan hebat, dan 

(3) karena jatuh dan benturan.

Menurut Kartono Mohamad (2001) pingsan mempunyai beberapa jenis,

diantaranya:

1) Pingsan biasa (simple fainting)

Pingsan jenis ini sering diderita oleh orang yang memulai aktivitas tanpa

melakukan makan pagi terlebih dahulu, penderita anemia, orang yang

mengalami kelelahan, ketakutan, kesedihan dan kegembiraan.

2) Pingsan karena panas (heat exhaustion)

Pingsan ini terjadi pada orang sehat yang melakukan aktivitas di tempat

yang sangat panas. Biasanya penderita merasakan jantung berdebar, mual,

muntah, sakit kepala dan pingsan. Keringat yang berkucuran pada orang

pingsan di udara yang sangat panas merupakan petunjuk bahwa orang

tersebut mengalami pingsan jenis ini.

3) Pingsan karena sengatan terik (heat stroke)

Pingsan jenis ini merupakan keadaan yang lebih parah dari heat

exhaustion. Sengatan terik terjadi karena bekerja di udara panas dengan

terik matahari dalam jangka waktu yang lama, sehingga kelenjar keringat

menjadi lemah dan tidak mampu mengeluarkan keringat lagi. Akibatnya

panas yang mengenai tubuh tidak ditahan oleh adanya penguapan

keringat. Gejala sengatan panas biasanya didahului oleh keringat yang

mendadak menghilang, penderita kemudian merasa udara disekitarnya

mendadak menjadi sangat panas. Selain itu penderita merasa lemas, sakit

kepala, tidak dapat berjalan tegap, mengigau dan pingsan. Keringatnya

tidak keluar sehingga badan menjadi kering. Suhu badan meningkat

sampai 40-41 derajat celcius, mukanya memerah dan pernafasannya cepat.


B. Pengertian cedera sedang

Cedera sedang ialah kerusakan jaringan yang lebih nyata, dan berpengaruh terhadap performa olahragawan. Keluhan berupa nyeri, bengkak, dan gangguan fungsi, misalnya lebar otot, strain otot, tendon-tendon, dan robeknya ligamen (sprain gerak).


Cedera pada Otot Tendo dan Ligamen

Menurut Hardianto Wibowo (1995: 20) strain adalah cedera yang menyangkut

cedera otot dan tendon. Strain dapat dibagi menjadi tiga tingkatan yaitu:

1) Tingkat I

Strain tingkat ini tidak ada robekan, hanya terdapat kondisi inflamasi ringan.

Meskipun pada tingkat ini tidak ada penurunan kekuatan otot, tetapi pada kondisi

tertentu cukup mengganggu atlet.

2) Tingkat II

Strain pada tingkat ini sudah terdapat kerusakan pada otot atau tendon sehingga

dapat mengurangi kekuatan otot

3) Tingkat III

Strain pada tingkat ini sudah terjadi kerobekan yang parah atau bahkan sampai

putus sehingga diperlukan tindakan operasi atau bedah dan dilanjutkan dengan

fisioterapi dan rehabilitasi.


Sedangkan Hardianto Wibowo (1995: 22) sprain merupakan cedera yang

menyangkut ligamen. Cedera sprain dapat dibedakan menjadi beberapa tingkatan

yaitu:

1) Tingkat I

Pada cedera ini terdapat sedikit hematoma dalam ligamentum dan hanya beberapa

serabut yang putus. Cedera menimbulkan rasa nyeri tekan, pembengkatan dan rasa

sakit pada daerah tersebut. Pada cedera ini tidak perlu pertolongan/ pengobatan,

cedera pada tingkat ini cukut diberikan istirahat saja karena akan sembuh dengan

sendirinya

2) Tingkat II

Pada cedera ini lebih banyak serabut dari ligamentum yang putus, tetapi lebih

separuh serabut ligamentum yang utuh. Cedera menimbulkan rasa sakit, nyeri

tekan, pembengkakan, efusi, (cairan yang keluar) dan biasanya tidak dapat

menggerakkan persendian tersebut. kita harus memberikan tindakan imobilisasi

(suatu tindakan yang diberikan agar bagian yang cedera tidak dapat digerakan)

dengan cara balut tekan, spalk maupun gibs. Biasanya istirahat selama 3-6 minggu.

3) Tingkat III

AkuPada cedera ini seluruh ligamentum putus, sehinnga kedua ujungya terpisah.

Persendian yang bersangkutan merasa sangat sakit, terdapat darah dalam

persendian, pembekakan, tidak dapat bergerak seperti biasa, dan terdapat gerakan–

gerakan yang abnormal. Cedera tingkat ini harus dibawa ke rumah sakit untuk

dioperasi namun harus diberi pertolongan pertama terlebih dahulu.


C. Pengertian Cedera berat

 Cedera berat adalah cedera yang serius, diytandai dengan adanya kerusakan

pada jaringan tubuh, misalnya kerobekan otot hingga putus, maupun fraktur

tulang yang memerlukan istirahat total, pengobatan intensif bahkan operasi.

a. Dislokasi

Menurut Ronald P. Pfeiffer (2003: 38) dislokasi adalah terlepasnya sebuah sendi dari tempatnya yang seharusnya “Dislokasi yang sering terjadi pada olahragawan adalah dislokasi bahu, sendi panggul, karena bergeser dari tempatnya maka sendi menjadi macet dan terasa nyeri. Sebuah sendi yang pernah mengalami dislokasi, ligamen akan menjadi kendor. Akibatnya, sendi itu akan mudah mengalami dislokasi kembali” (Kartono Mohammad 2001: 31).


b. Patah tulang (fracture) 

Patah tulang adalah suatu keadaan dimana tulang mengalami keretakan,pecah, atau patah, baik pada tulang rawan (kartilago) maupun tulang keras (osteon) (Alton Thygerson, 2006: 75) . Menurut Mirkin dan Hoffman (1984: 124-125)

 pataht ulang digolongkan menjadi dua yaitu: 

(1) patah tulang komplek, dimana tulang

terputus sama sekali

(2) patah tulang stres, dimana tulang hanya mengalami keretakan tetapi tidak terpisah. Berdasarkan tampak tidaknya jaringan dari luar tubuh,

Kartono Mohamad (2003: 73) membagi patah tulang menjadi: 

(1) patah tulang terbuka dimana fragmen atau pecahan tulang melukai kulit diatasnya dan tulang keluar, 

(2) patah tulang tertutup dimana fragmen (pecahan) tulang tidak menembus permukaan kulit. Jadi dapat disimpulkan fracture atau patah tulang dapat dibedakan menjadi 3 yaitu:

 (1) patah tulang retak,

 (2) patah tulang comminuted,

 dan (3) patah tulang terbuka.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PERTEMUAN KE LIMA BELAS TINDAKAN PERTAMA DENGAN SISTEM RICE DAN METODE RICE

PERTEMUAN KELIMA LATIHAN-LATIHAN PROGRESIF

PERTEMUAN KE EMPAT BELAS CEDERA SAAT BERTANDING